beradaptasi
Sumber : Stocksnap.io

Negara ini sangat kaya akan keanekaragaman budaya dan keberagamaannya. Dibutuhkan toleransi yang tinggi agar persatuan dan kesatuan negara ini tetap terjaga. Menjaga integritas dan integrasi bangsa ini sangatlah mudah jika setiap insan di dalamnya menghargai warisan bangsa dan bermoral mulia. Segala sesuatunya bergantung pada rasa. Rasa memiliki. Rasa peduli. Rasa menghargai dan menghormati.

Adanya perbedaan di tengah-tengah kita seharusnya tidaklah menjadikan kita terpisah dari yang lain. Terlalu mengekslusifkan diri sangatlah berbahaya, karena hal itu menjadi celah bagi mereka yang hendak menghancurkan bangsa ini. Keindahan alam dan kekayaan yang ada di dalamnya akan terjaga jika kita memiliki sifat nasionalis dan tidak mengharap kepentingan pribadi diatas kepentingan umum. Akan tetapi hal sebaliknya telah terjadi di negara kita saat ini, dan aku sangat sedih melihatnya.

Bagaimana cara kita memahami akan indahnya perbedaan? Sebenarnya banyak sekali cara yang ditempuh, akan tetapi lebih mudahnya aku menyarankan kepada kalian untuk mengeksplorasi beberapa wilayah yang ada di negara kita, setidaknya 3 wilayah berbeda. Hal tersebut akan melatih kita untuk menjadi lebih baik jika mau mempelajari setiap pengalaman yang diperoleh, dan membuat kita tidak terlalu terlena dengan zona nyaman.

Saat aku kecil hingga usia 14 tahun, aku berada di tanah kelahiran—Pasuruan. Setelah itu aku melanjutkan sekolah menengah atas di Ngawi—masih Jawa Timur dan tepatnya di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah. Kemudian aku melanjutkan sekolah di salah satu perguruan tinggi di Malang—masih Jawa Timur—selama 4 tahun lamanya. Setelah menikah aku mengikuti suamiku yang tinggal di Buntok hingga Palangkaraya—Kalimantan Tengah.

Selama 25 tahun, aku tinggal di Jawa Timur yang memiliki adat dan budaya yang tidak terlalu berbeda antara satu daerah dan daerah lainnya. Perbedaan yang aku rasakan terletak pada bahasa yang sedikit berbeda, dan makanan yang baru kutemui dengan rasa dan cara penyajian yang aku rasa tidak terlalu berbeda pula. Semuanya tidak banyak perbedaan, sehingga aku bisa menikmati hidup dengan nyaman.

Di Buntok aku sedikit syok pada awalnya, karena perbedaan bahasa dan juga makanannya. Bahasa banjar dan bahasa dayak bakumpai menjadi bahasa sehari hari di Buntok. Aku bahkan hanya bisa diam dan tersenyum sambil mengangguk-angguk kepala seolah aku paham, sedangkan aku hanya sedikit memahami bahasa banjar. Jadilah aku merasa sangat asing di tempat kelahiran suamiku, akan tetapi aku senang karena bisa menghafal sedikit kosa kata baru. Begitu pula dengan makanannya, ada istilah baru yang kutemui dengan makanan yang sama di Jawa atau makanan yang berbeda dengan istilah yang sama, seperti mencok dan gado-gado. Mencok itu seperti rujak buah di Jawa, sedangkan gado-gado seperti rujak ulek di Jawa.

Di Palangkaraya aku tidak terlalu terkejut dengan suasana dan makanan yang berbeda, karena di tempat tinggalku banyak sekali orang rantau, dari Sumatera hingga Jawa. Makanannya pun sama dengan di Buntok, akan tetapi bahasanya memiliki banyak perbedaan, karena bahasa sehari hari yang digunakan adalah bahasa banjar dan bahasa dayak katingan atau dayak kapuas. Disitulah aku mulai mempelajari bahasa baru, seperti tambi yang artinya nenek, dan seterusnya.

Kesulitanku memang terletak pada penguasaan bahasa daerah. Akan tetapi dalam hal lain aku tidak terlalu sulit untuk beradaptasi. Aku pun tetap bisa bergaul dengan tetangga, dan bahkan sudah betah tinggal di Palangkaraya dengan udara panasnya. Aku rasa hidup dimanapun tak menjadi masalah, asalkan kita mudah beradaptasi dan selalu menjaga akhlak kita. Mempelajari banyak bahasa itu lebih baik agar kita semakin dekat dengan warga asli setempat.

Writer : Ratna Kusuma Wardani

# OneDayOnePost30HRDC

# WritingChallenge30HRDC

# 30HariRamadhanDalamCerita

0