sahabat
Sumber : Stocksnap

Aku sangat tidak asing dengan istilah “sahabat”. Sahabat adalah manusia yang bisa diandalkan dalam suka maupun duka. Bagiku sahabat layaknya tato yang permanen. Aku memiliki banyak sahabat, terhitung sejak diriku mengenyam bangku sekolah menengah atas, akan tetapi dari semuanya itu hanya satu dari mereka yang sangat dekat sekali denganku. Dia adalah satu-satunya manusia di dunia ini yang bisa mempengaruhiku dalam hal apapun. Dia adalah seorang perempuan hebat bagiku.

Well, aku tidak akan menceritakan awal mula pertemuanku dengannya dan kisah menyenangkan tentang persahabatan kami. Aku hanya akan menceritakan suatu kisah tentang kami setelah usia kami menginjak awal 30 an, yang menurutku sangatlah fantastik. Kenapa? Begini ceritanya!

Saat ini, aku merupakan seorang istri dan ibu beranak satu. Selayaknya ibu-ibu zaman sekarang yang sudah jauh lebih modern dan sering disebut netizen dengan emak jaman now, aku pun akrab dengan dunia maya dan segala hal yang berbau kekinian, dari hashtag #2019gantipresiden hingga maraknya pelakor. Berbagai kecanggihan teknologi saat ini, membuatku lebih mudah untuk memanfaatkannya sebagai sarana silaturahmi dengan sanak famili dan juga sahabatku.

Semenjak aku mempunyai anak, aku jarang sekali bertemu dengan sahabatku itu karena jarak yang memisahkan kita. Kendati demikian, komunikasi kita tidak pernah terputus layaknya rel kereta api yang tak berujung. Dia adalah perempuan kuat nomor dua—nomor satunya jelas Ibuku—yang pernah aku temui di dunia ini. Perempuan yang religius, cantik, dan humble. Siapapun laki-laki yang akan menikahinya kelak pasti sangatlah beruntung.

Suatu hari yang kelabu di bulan September, saat hujan deras mengguyur kota tempatku tinggal, aku menghubungi sahabatku itu untuk menceritakan segala kesedihanku padanya tentang kegundahan hatiku selama dua bulan terakhir ini. Suamiku berselingkuh dengan wanita yang jauh lebih muda dariku. Betapa menyedihkannya mendapati fakta bahwa perselingkuhan itu terjadi di tahun ketiga perkawinan kami dan usia anak kami satu-satunya baru menginjak 8 bulan. Aku menceritakan kepadanya bahwa suamiku akan menduakanku dengan segera menikahi selingkuhannya itu. Selayaknya sahabat yang bijak, dia tidak menghakimiku karena menyetujui permintaan suamiku itu.

”Hatiku hancur,” kataku.

“Mengapa hal ini terjadi kepadaku disaat aku baru memulai menjadi istri dan ibu yang baik? Baru beberapa bulan anak kami lahir setelah dua tahun  lamanya menantikan kehadiran buah hati” tanyaku.

“Apakah kehadiran anak ini tidak cukup membuatnya bahagia? tanyaku kembali.

Sahabatku diam.

“Dan sekarang aku harus rela jika suamiku membagi cintanya. Aku hanya tidak sanggup jika anak ini besar tanpa kehadiran seorang ayah disisinya” aku mengeluh kembali.

.

.

.

Aku terus mengeluh dan mempertanyakan alasan suamiku melakukan hal tersebut padaku. Aku mengeluarkan semua kegundahan dalam hatiku pada sahabatku tersebut, namun dia tetap diam. Sampai pada akhirnya dia mengucapkan satu patah kata.

“Sabar …” jawabnya.

Tangisku seketika pecah mengalahkan suara hujan yang saat itu datang membasahi bumi.

“Apakah kau bahagia? Jika perpisahan membuatmu, bahagia maka berpisahlah. Sebaliknya jika bertahan membuatmu bahagia maka bertahanlah. Selama kau bahagia, aku akan turut bahagia apapun keadaamu.”

Sahabatku mengatakan kepadaku, bahwa segala keputusan yang kuambil akan selalu dia dukung dengan syarat aku harus bahagia tanpa memikirkan kebahagiaan orang lain, termasuk anakku satu-satunya. Karena dalam hal ini aku harus egois agar bahagia. Berkat dia pula aku semakin dekat pada Sang Kuasa. Dia memang tempat curhat yang paling nyaman buatku meskipun terkadang aku sering kali diomelinya. Tiada tempat yang nyaman buatku untuk bersandar sejenak dalam lelahnya kehidupan ini selain sahabatku itu. Seandainya saja dia laki-laki mungkin sudah kujadikan suami, pikirku. Hahaha.

Waktu cepat sekali berlalu tanpa kusadari bahwa anakku satu-satunya sudah mulai memasuki bangku sekolah taman kanak-kanak di usinya yang menginjak 4 tahun. Sudah hampir 7 tahun aku menikah dan tetap bertahan dengan suamiku dengan adanya perubahan status, yaitu menjadi istri pertama. Dalam kurun waktu beberapa tahun ini aku selalu berkeluh kesah dengan sahabatku itu akan pedihnya dimadu. Sampai pada suatu waktu, sahabatku itu datang kepadaku dengan rona wajah yang bahagia. Aku tak pernah melihat wajah itu penuh dengan cahaya kebahagiaan yang sangat menenangkan selain pada hari itu. Ya, dia bilang bahwa ada seorang laki-laki yang hendak meminangnya. Aku sangat senang mendengar berita yang membahagiakan itu.

Setelah beberapa hari berlalu, ada pesan baru masuk ke nomorku. Tertulis disana nama sahabatku itu. Dengan secepat kilat aku membaca pesan itu. Entah kenapa hari ini terasa amat sangat dingin di cuaca yang terik. Bukankah bulan ini adalah musim kemarau, bahkan bunga-bungaku sudah layu karena hujan tak kunjung datang? Kucermati benar-benar layar telepon di tanganku. Kurasakan badanku gemetar dan perutku terasa mulas sekali.

Sejenak setelah kubaca pesan itu,  aku  memutuskan untuk mengondisikan pikiran dan tubuhku terlebih dahulu agar bisa mencerna kata-kata dengan baik serta dapat berpikir netral. Kenapa hal ini terjadi kepada sahabatku tercinta? Kenapa dia bisa jatuh cinta dengan laki-laki yang sudah beristri? Kenapa dia mau menjadi yang kedua? Apa yang harus aku katakan kepadanya? Haruskah aku memarahinya? Aku bingung. Akhirnya kuputuskan untuk membalas pesan itu dengan narasi yang normatif, sangat normatif. Kusarankan padanya untuk tidak gegabah dalam bertindak sembari menunggu berita kepastian dari pihak laki-laki yang ingin meminangnya itu.

Setelah beberapa hari aku menunggu dan mencemaskan hasil dari sahabatku itu, aku tidak pernah memojokkan dia sama sekali, sebaliknya aku mendukung dia dan menjadi pendengar setianya seperti beberapa tahun yang sudah kami lewati ini. Aku sangat mengenal dia dengan baik, dan apapun yang akan dia lakukan tak akan menjadi masalah. Bahkan jika dia memang memutuskan menjadi istri kedua. Aku hanya mencemaskan dia, akankah dia benar-benar siap jika harus meninggalkan laki-laki itu? Kenapa aku mengatakan hal demikian? Karena aku mengenalnya, aku tahu pasti apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku sangat mencemaskan sahabatku itu karena dia akan patah hati. Dia akan patah hati dan pergi menjauh dari laki-laki itu yang telah menjanjikan hal-hal yang mustahil bisa dipenuhinya kepada sahabatku. Aku tau pasti dia tidak akan egois terhadap perasaannya sendiri karena dia adalah sahabatku, bukan wanita jahat itu.

Wanita jahat dalam hidupku itu sangatlah berbeda dengan sahabatku. Wanita jahat itu benar-benar berbisa, sampai hati dia menyakiti wanita lain. Sahabatku sangatlah berbeda, dia tidak akan berani menyakiti wanita lain hanya karena keegoisannya. Benar apa yang sudah kuduga, selang beberapa minggu aku mendapatkan pesan dari sahabatku jika dia menolak pinangan laki-laki beristri itu. Aku menguatkan dia untuk selalu bersabar atas cobaan hidup ini. Perasaan cinta tidak pernah salah, hanya alamatnya saja yang kadang salah tujuan. Tinggal bagaimana kita mau mengubah alamat itu agar sampai tujuan dengan tepat.

Cinta memang tak pernah salah, tapi akankah emosi kita mengalahkan naluri kemanusiaan kita terhadap sesama hingga tega menyakiti sesama kita?

Writer : Ratna Kusuma Wardani

0