ramadan di perantauan
Sumber : Stocksnap.io

Wah, tidak terasa bisa bertemu kembali dengan bulan Ramadan, bulan penuh berkah dan ampunan. Setiap kali aku mengenang memori ramadan sebelum memiliki anak, dadaku terasa sesak dan haru, karena perbandingannya sangat jauh dengan momen ramadan setelah menikah. Suasana ramadan yang berbeda antara kampung halaman dan rumahku sekarang di perantauanโ€”Palangkarayaโ€”membuatku rindu dengan keluargaku. Sudah 3 tahun lamanya aku tinggal di Palangkaraya, dan selama itu pula aku menjalani ramadan di kota cantik itu. Ada banyak perbedaan yang kurasakan, hingga hal itu membuatku ingin membagikan pengalaman yang kualami ketika berpuasa ramadan di Palangkaraya.

Makanan berbuka puasa yang dulu sering kubeli, sekarang tak bisa kunikmati. Biasanya ketika bulan puasa tiba, menu makanan di malam hari sangat beraneka ragam. Bahkan bagi mereka yang diet pun bisa lupa akan makanan yang menjadi pantangan, karena nafsu makan menjelang berbuka puasa naik 100 % dari hari biasanya. Di bulan ramadan ini pun, hampir semua orang yang menjalankan ibadah puasa mendadak menjadi ibu hamil yang sedang memengidam. Semua makanan yang diinginkan harus tersedia di meja makan ketika beduk magrib berkumandang. Tak jarang makanan yang tersedia pun tak semuanya habis termakan, karena pada hakikatnya semuanya itu hanyalah nafsu semata yang tak bisa dibendung disebabkan oleh puasa yang hampir 14 jam setiap harinya.

Pada momen ini pun, aku juga mengalami hal serupa dengan kebanyakan orang tersebut. Apalagi ketika aku hamil tua di saat bulan ramadan dan aku ikut berpuasa. Coba bayangkan! Orang biasa saja bisa menjadi ibu hamil yang mengidam ketika puasa, apalagi ibu hamil yang puasa, mengidamnya naik drastis menjadi 200%. Hahaha.

Makanan sederhana yang selalu kubeli salah satunya adalah cilok. Dulu sebelum merantau, aku selalu membeli cilok dan kawanannya sebagai makanan pembuka ketika berbuka puasa. Tetapi sekarang tak bisa kubeli lagi karena di daerah tempatku tinggal tidak ada penjual cilok. Selama aku tinggal di Palangkaraya memang aku tak pernah mendapati penjual cilok. Hingga ketika ramadan tiba aku pun hanya bisa membayangkan makan cilok hangat dengan saus kacang yang lezat.

Di Palangkaraya juga tidak ada penjual es rumput laut yang biasa kutemui di kampung halamankuโ€”Pasuruan. Sedangkan aku selalu membeli es tersebut ketika ramadan tiba dan tidak pernah absen untuk mengantre di gerobak penjual es rumput laut dekat SD ku dulu. Hingga akhirnya ketika di Palangkaraya aku pun menyambangi semua pasar ramadan yang didirikan oleh pemerintah kota ataupun swasta demi mencari es rumput laut untuk menghilangkan dahaga setelah sehari berpuasa, tetapi aku tak pernah mendapatkan apa yang kuinginkan. Beruntung aku tidak pernah pilih-pilih makanan, jadi aku pun bisa menikmati makanan dan minuman yang ada.

Aku pun sering telat sahur karena tidak ada sekumpulan orang yang biasa berkeliling membangunkan warga untuk sahur. Mungkin inilah salah satu perbedaan budaya atau kebiasaan yang ada di daerah. Di kampung halamanku masih ada sekumpulan orang yang berkeliling sambil membunyikan beberapa alat untuk dimainkan dengan tujuan membangunkan warga yang hendak sahur. Akan tetapi kebiasaan itu tak kudapati di tempat tinggalku sekarang. Mungkin karena hal itu bisa mengganggu warga yang tidak menjalankan ibadah puasa. Hingga akupun sangat akrab dengan bunyi alarm ponsel yang sengaja aku atur agar bisa bangun untuk sahur.

Banyak makanan favorit baru yang kutemukan di Palangkaraya, sehingga ketika ramadan tiba akupun tak pernah absen untuk membeli kue bingka, kue lapis india, dan juga haruan masak merah. Beruntung lidahku sangat pintar beradaptasi dengan aneka ragam makanan baru, membuatku tetap bersemangat menjalani hari-hari di bulan ramadan.

Bagaimana dengan Ramadan di tempat kalian tinggal? Berbagi cerita dong!

Writer : Ratna Kusuma Wardani

0