review film be with you
Sumber : Hancinema

Sudah sekian lama akhirnya aku kembali melirik tontonan film bergenre keluarga. Kali ini aku memilih film yang diperankan oleh Son Ye Jin dan So Ji Sub sebagai pemeran utama. Film ini sedikit rumit buatku, karena aku tidak terlalu paham dengan ilmu perjalanan waktu. Akan tetapi aku dapat menangkap maksud dari cerita film ini. Film ini menceritakan tentang keputusan seorang wanita dalam memilih takdirnya untuk hidup bersama dengan lelaki yang dicintainya meskipun dia mengetahui dengan pasti bahwa dirinya akan meninggal di usia 32 tahun jika harus hidup dengan lelaki itu. Cerita yang dapat mengaduk-aduk emosi penonton hingga mencucurkan air mata ini sangat direkomendasikan buat kalian yang sayang keluarga. Meskipun menurutku terlihat cukup mustahil, namun ada beberapa pesan inspiratif yang bisa aku ambil dari film ini. Check it out!

  1. Apapun pilihanmu, kamu harus terima setiap resikonya

Dalam hidup, kita pernah dihadapkan oleh suatu momen ketika kita harus memilih diantara dua hal. Setiap keputusan yang nantinya diambil pasti mempunyai konsekuensi tersendiri, seperti halnya Soo Ah yang mengalami kejadian ajaib memasuki lorong waktu setelah kecelakaan yang menimpanya selama koma 6 minggu. Dia melihat masa depannya dengan jelas bersama Woo Jin dan anaknya Ji Ho. Kemudian dia meninggal di usia 32 tahun. Soo Ah pun mengalami kegalauan dalam memutuskan setelah bangun dari komanya—setelah melihat masa depannya dengan Woo Jin dan anaknya Ji Ho. Hingga pada akhirnya dia memilih menikah dengan Woo Jin dan melahirkan Ji Ho, karena dia merasakan kebahagiaan ketika itu—saat koma dan melihat masa depan.

Hidup di dunia ini pun penuh dengan pilihan. Terkadang kita merasa mudah untuk memilih tapi sulit untuk menerima konsekuensinya. Hingga pada akhirnya kita tak sepenuhnya bisa menerima kenyataan itu dan berakhir hidup tak bahagia. Hidup di dunia ini pun penuh dengan resiko. Pernahkah kalian berada dalam kondisi keuangan menipis dan saat itu uang kalian hanya cukup untuk makan selama 3 hari dengan mie instan? Banyak sekali pilihannya ketika itu. Pertama, biarkan saja makan mie instan selama 3 hari berturut-turut meskipun sangat bosan sekali. Kedua, lebih baik makan nasi tetapi harus puasa meskipun tidak terbiasa berpuasa. Ketiga, meminjam uang dengan teman sehingga bisa makan enak, meskipun tak tahu kapan bisa membayarnya. Sangat simple sebenarnya, tetapi kadang orang memilih untuk berhutang demi makan enak dan sangat sulit sekali ketika ditagih. Hingga hidup pun tak bahagia karena dikejar hutang.

  1. Tidak ada manusia yang sempurna, hanya seni ‘saling melengkapi’ yang harus kita kuasai

Jika ada manusia sempurna, pastilah orang akan saling membunuh untuk mendapatkannya. Aku tidak yakin jika orang yang memiliki banyak kelebihan, akan lebih unggul segalanya dari orang yang memiliki banyak kekurangan. Aku rasa hidup ini tentang bagaimana kita bisa saling melengkapi dari banyaknya perbedaan, hingga kemudian merasakan kebahagian di tengah-tengah perbedaan. Selayaknya Soo Ah yang menerima kekurangan Woo Jin karena suatu penyakit yang diderita, tidak menghalanginya untuk tetap bersama dengannya, karena dia akan mendapatkan kebahagiaan.

Tidak setiap orang yang memiliki kelebihan secara finansial akan merasakan kebahagiaan dibandingkan dengan mereka yang kurang secara finansial. Mereka yang tinggal di rumah kardus tampak lebih bahagia dengan senyum yang sumringah dibandingkan dengan mereka yang tinggal di rumah megah, yang seolah menanggung beban seluruh umat. Orang yang cacat secara fisik mempunyai karya yang bisa dibanggakan, sedangkan mereka yang sempurna secara fisik justru merusak karya orang lain. Pasangan yang sempurna secara fisik dan mental mengalami kegagalan dalam menjalani rumah tangga karena kekurangan dan kelebihan yang tidak bisa diterima satu sama lainnya. Sedangkan pasangan yang tidak sempurna secara fisik bisa bertahan dalam menjalani badai rumah tangga dengan saling melengkapi. Kalian bisa mencari contoh lebih banyak lagi tentang pernyataanku diatas.

Seperti halnya yang dilakukan Soo Ah, Woo Jin dan Ji Ho. Mereka hidup saling melengkapi. Saling menjaga. Serta saling menyayangi.

review film Be With You
Sumber: Hancinema
  1. Ibu adalah jantung keluarga

Pernahkah kalian merasakan suasana rumah yang berantakan dan sepi tanpa kehadiran seorang ibu? Aku merasakannya. Ternyata aku merindukan suara ibu meskipun dia cerewet sekali. Sepi rasanya rumah ini tanpa suaranya. Rumah akan kotor dan berantakan jika ibu tidak ada di rumah. Itulah yang dirasakan Ji Ho ketika ibunya meninggal. Sarapan telor goreng yang gosong dan cucian piring yang menumpuk, bahkan kancing baju yang tidak tersusun rapi.

Ibu memiliki kekuatan tersendiri untuk bisa membahagiakan orang-orang yang dicintainya, meskipun dirinya sendiri sedih dan menangis. Dia akan tetap terlihat tegar dan kuat. Energi itu yang kemudian mengalir dalam jiwa semua anggota keluarga. Pun aku tak bisa membayangkan jika diriku ini lemah. Jelas sekali anak-anakku akan tampak tak terurus. Aku selalu meyakinkan diriku bahwa aku harus kuat dan mampu menjalani hidup ini dengan optimis. Demi anak-anakku.

review film Be With You
Sumber: Hancinema

Soo Ah seolah-olah mendapatkan kesempatan untuk mengisi ruang kosong dalam kehidupan suami dan anaknya sepeninggal dirinya. Dia mengajarkan kepada anaknya untuk saling menjaga dan mengisi kekurangan dalam keluarga. Bahkan Ji Ho diberikan keterampilan untuk mengurus diri dengan baik. Woo Jin adalah sosok ayah yang tidak putus asa untuk selalu membahagiakan anaknya dengan segala kekurangan. Ayah dan anak itu menemukan semangat dan optimisme kembali untuk melanjutkan hidup karena kehadiran seorang ibu meskipun hanya untuk sesaat.

Berbahagialah kalian yang masih memiliki waktu untuk bisa mengabdi kepada ibu, karena banyak sekali penyesalan yang datang dari orang-orang yang terlambat menyadari pentingnya seorang ibu ketika mereka sudah tiada. Ketiadaan seorang ibu bagaikan tubuh manusia yang kehilangan jantungnya.

  1. Badai pasti berlalu

Seperti halnya badai yang pasti akan berlalu, begitu juga dengan kesedihan. Tak selamanya kita akan bersedih. Waktulah yang menjadi obat untuk menyembuhkan kesedihan itu. Hanya saja kita perlu untuk bersabar sembari menunggu waktu yang terus berjalan.

Woo Jin dan Ji Ho tetap semangat dalam hidup dan tidak bersedih lagi seiring berjalannya waktu, walaupun tanpa sosok Soo Ah diantara mereka. Beruntung mereka memiliki kenangan indah bersama Soo Ah yang menemani hari-hari mereka.

Setiap orang pernah merasakan jatuh dan bersedih. Aku pun demikian. Bahkan tak jarang beberapa orang memutuskan untuk mengakhiri hidup mereka. Aku pun pernah merasakan hal itu. Serasa diri ini tak kuasa menahan derita dan kesedihan yang teramat menyakitkan. Akan tetapi aku menyadari bahwa semua ini bukanlah akhir dari segalanya, dan yang bisa kulakukan adalah bangkit. Aku yakin hidupku tak selamanya begini. Aku yakin akan tersenyum bahagia, dan semuanya akan berlalu.

  1. Cinta yang tulus adalah cinta ibu kepada anaknya

Cerita ini memperlihatkan kepada kita bahwa kasih sayang seorang ibu tidak pernah lekang oleh waktu. Soo Ah datang kembali setelah dia meninggal hanya demi anaknya Ji Ho. Bagaimana tidak? Soo Ah memberikan keterampilan untuk mengurus diri dengan baik kepada Ji Ho dan berpesan agar Ji Ho senantiasa menjaga ayahnya. Hal-hal sederhana itu sangat bermanfaat sekali buat Ji Ho kedepannya. Bahkan ketika di tengah-tengah pertunjukan sekolah, Ji Ho yang berada di atas panggung menyebutkan semua hal yang diajarkan oleh ibunya, hal sebaliknya disampaikan oleh teman-temannya,  yang bertema ‘cita-cita’.

review film Be With You
Sumber: Hancinema

“Ibu, maafkan aku. Jika aku tidak lahir, mungkin ibu akan hidup dengan ayah lebih lama. Jika aku tahu akan begini, aku akan menjadi anak yang lebih baik.” Ucap Ji Ho saat hendak berpisah dengan ibunya.

“Itu tidak benar. Aku sangat bahagia karena kamu. Meskipun aku akan hidup selama 100 tahun, tapi aku tidak akan bahagia tanpa kehadiranmu.”

“Sungguh?” Kata Ji Ho memastikan.

“Tentu saja.”

“Aku dan ayahmu, kami dipertemukan demi melahirkanmu. Dan aku sangat bersyukur.” Jawab Soo Ah dengan pasti.

“Sungguh?”

“Tentu saja.”

“Ibu, aku tidak akan melupakanmu.”

“Terima kasih.”

Seorang ibu sangat bahagia jika dia tidak dilupakan, sangat sederhana sekali. Seorang anak tidak meminta apapun kepada ibunya, hanya kasih sayang yang diinginkannya. Anak hanya ingin dirinya dianggap ada dan penting dalam hidup orang tuanya. Seorang ibu tidak mengharapkan pamrih kepada anaknya akan cinta dan semua hal yang dilakukannya. Berbeda dengan cinta sepasang kekasih yang mengharap balasan dan imbalan satu sama lainnya. Ketika mereka bertengkar, pasti ada satu diantara mereka berkata “Inikah balasan yang kau berikan kepadaku setelah apa yang sudah kukorbankan untukmu?” Ibuku tak pernah mengatakan hal itu. Semarah apapun beliau, kata-kata itu tak pernah terucap dari mulutnya. Aku pun tak pernah menyesal sudah melahirkan dua orang anak meskipun hidupku susah. Aku rasa itulah yang dinamakan cinta yang tulus. Tanpa pamrih.

Percayalah, film ini benar-benar dapat mengaduk-aduk emosi kalian. Cerita tentang ibu, ayah dan anak yang saling melengkapi.

 

Writer : Ratna Kusuma Wardani

0